-->

Ads 720 x 90

Coba Cara Ini Untuk Memecahkan Permasalahan dalam Pembelajaran Penjas

SOLUSI PEMECAHAN MASALAH MELALUI PENERAPAN MODEL PERMAINAN INOVATIF – Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Artikel ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang permasalahan-permasalahan pada pembelajaran penjas. Sebaiknya kamu baca dulu agar lebih paham dengan klik di tulisan ini [Ternyata Ini Permasalahan pada Pembelajaran Penjas].

Solusi Masalah Pembelajaran Penjas

Berdasarkan permasalahan yang telah saya sebut dan jelaskan di tulisan sebelumnya, maka diperlukan upaya pemecahan agar permasalahan tidak berlarut larut yang berdampak bagi siswa dan orang lain.

Dari berbagai upaya yang pernah dilakukan seperti menggunakan berbagai media agar antusiasme siswa meningkat, memberi hukuman kepada provokator di kelas, sampai dengan penerapan model pembelajaran yang menyenangkan sudah pernah dilakukan.

Namun belum memperoleh hasil dan pengaruh yang signifikan terhadap keberlangsungan proses pembelajaran. Salah satu upaya yang hampir berhasil adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

Menurut Isjoni (2011:20) pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai suatu pendekatan mengajar di mana murid bekerja sama satu sama lain dalam kelompok belajar yang kecil untuk menyelesaikan tugas individu atau kelompok yang diberikan oleh guru.

Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa macam, yang pada kasus ini yang sudah pernah dieterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

Menurut Huda (2011:116) model pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan model pembelajaran dengan belajar tim yang menerapkan unsur permainan turnamen untuk memperoleh poin bagi skor tim mereka.

Sehingga harapan guru dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan antusiasme siswa selama proses pembelajaran PJOK khususnya materi gerak dasar lokomotor pada pembelajaran atletik.

Permainan yang sering diterapkan adalah berbagai permainan yang menerapkan prinsip estafet. Dari beberapa kali penerapan permainan estafet tersebut ternyata hasilnya kurang efektif karena banyak siswa yang dari beberapa percobaan sudah hafal alur permainannya, sehingga terkesan monoton.

Ada beberapa siswa yang memang antusias, namun segera teralihkan konsentrasinya akibat ulah provokator yang mudah bosan tadi, hasilnya proses pembelajaran kembali tidak kondusif.

Berdasarkan beberapa upaya dan berbagai kendala yang dialami tersebut, maka saya mengusulkan sebuah solusi pemecahan masalah yang masih ada kaitannya dengan model pembelajran kooperatif tipe TGT, yaitu penerapan model permainan Tic-Tac-Toe dalam proses pembelajaran.

Permainan tic-tac-toe lebih dikenal dengan istilah "Catur Jawa." Dalam permainan tic-tac-toe sangat unik karena bentuknya yang sederhana dengan hanya mengaplikasikan sebuah kotak 3x3 dan simbol “X” dan “O”. Pemain dikatakan menang apabila simbol telah tersusun membentuk garis diagonal, vertikal, atau horizontal (Prasetyo, 2015).

Adapun kelebihan dari permainan tic-tac-toe yaitu melatih siswa dalam menyusun strategi bermain, melatih siswa untuk teliti dan konsentrasi, melatih keterampilan sosial siswa dan berpartisipasi dalam pembelajaran secara aktif (Aycox, 1997).

Sehingga dengan penerapan permainan tic-tac-toe dalam proses pembelajaran akan meningkatkan antusiasme dan konsentrasi siswa dalam mengikutinya sampai akhir pembelajaran.

Karena dengan bermain permainan tic-tac-toe siswa dituntut untuk berkompetisi dan dibebani tugas secara dinamis dan variatif, sehingga tingkat kebosanan siswa selama proses pembelajaran akan berkurang dan bahkan hilang,

Dalam penerapan permainan tic-tac-toe pada mata pelajaran PJOK khususnya materi gerak dasar lokomotor ini tentu saja saya lakukan modifikasi mulai dari media permainan hingga aturan permainannya. Detail mengenai penerapan permainan tic-tac-toe yang saya usulkan adalah sebagai berikut .

Model Permainan Seru Dan Inovatif


Peraturan Permainan

Jadi, Permainan terdiri dari 2 tim sehingga kelas dibagi menjadi dua tim yang masing-masing tim terdiri dari 16 siswa. (pembagian kelompok laki-laki dan atau perempuan boleh dilakukan tergantung ketersediaan media).

Area bermain terdiri dari beberapa pos yang harus dilewati masing-masing tim sebelum sampai di papan permainan tic-tac-toe untuk meletakkan bidak (cek gambar lapangan di bawah).

Pos-pos yang dimaksud adalah Pos 1 = Lari zig zag , Pos 2 = Lompat katak, Pos 3 = Lari mundur. Ketiga pos tersebut bisa disesuaikan oleh guru atau berdasarkan level permainan, semakin tinggi level semakin susah rintangannya.

Pemain yang sudah berhasil melewati pos-pos harus meletakkan bidak pada papan permainan tic-tac-toe berdasarkan strategi masing-masing tim yang telah direncanakan sebelumnya. Pemain yang telah meletakkan bidak ke papan permainan harus kembali lagi ke basecamp untuk bergantian giliran dengan anggota tim yang lain.

Gerakan itu terus dilakukan semua anggota tim secara bergantian sampai ada salah satu tim yang berhasil meletakkan bidak lurus secara diagonal, vertikal, atau horizontal. Tim yang berhasil meletakkan bidak lurus secara diagonal, vertikal, atau horizontal mendapatkan 1 poin.

Permainan berakhir ketika salah satu tim berhasil mencapai 3 atau 5 poin. Bisa juga dikreasikan dengan membuat model level bertingkat. Misalnya setiap pencapaian 3 poin akan masuk ke ronde 2, level 2, dsb. Tentunya dengan rintangan pada masing-masing pos yang berbeda.

Lapangan Area Permainan

Arah pergerakan masing-masing tim/pemain, urut mulai dari menuju POS 1 dilanjutkan ke POS 2 dan terakhir menuju PAPAN TIC-TAC-TOE.

Terdapat pos-pos yang mewajibkan setiap pemain melakukan beberapa variasi gerakan untuk mencapainya.

PAPAN TIC-TAC-TOE. Setiap pemain yang berhasil meletakkan bidak pada papan selanjutnya harus kembali ke garis start untuk bergantian anggota tim yang lain.

Dengan menerapkan permainan tic-tac-toe dalam proses pembelajaran PJOK khususnya materi gerak dasar lokomotor diharapkan antusias dan konsentrasi siswa meningkat. Karena siswa menjadi lebih semangat dalam melaksanakan tugas dan suasana kelas menjadi semakin seru dan menarik.

Selain itu juga tidak seperti penerapan estafet seperti sebelumnya, dengan penerapan permaina tic-tac-toe siswa memiliki orientasi yang berbeda terhadap tujuan permainan.

Jika pada estafet masing-masing tim hanya perlu melewati pos-pos dan pemenang ditentukan yang tercepat mencapai garis finish, berbeda dengan penerapan permainan tic-tac-toe. Selain dituntut untuk mampu melewati pos-pos masing-masing, tim juga dituntut untuk cepat dalam mengatur strategi meletakkan setiap bidak.

Sehingga masing-masing siswa dalam satu tim ditantang untuk mampu memberikan kontribusi maksimalnya dan berkesempatan untuk tampil membawa tim nya menjadi juara.

Dalam penerapan permainan tic-tac-toe ini, penguatan positif sangat perlu diberikan untuk membangun motivasi anak agar anak merasa berhasil dan mau mengulang apa yang sudah berhasil dilakukannya.

Nah bagi rekan-rekan yang masih bingung dan ingin diskusi tentang modifikasi permainan ini, bisa langsung klik [Contact Us]. Demikian tulisan tentang Modifikasi Permainan Tic-Tac-Toe (Catur Jawa) Sebagai Model Permainan Seru Dan Inovatif dan Memecahkan Masalah Pembelajaran Penjas. Semoga membawa manfaat.

BAHAN RUJUKAN

Tulisan Terkait

Post a Comment

Berlangganan Artikel Terbaru